Kepunahan dan faktor ekonomi sebagai pemicu utamanya


Makna lingkungan yang sehat bagi masyarakat Indonesia berarti memiliki nilai estetika, etika, dan ekonomi yang tinggi, oleh karena itu sangatlah berarti jika senantiasa kita mampu memeliharanya secara maksimal. Memelihara yang dimaksud mengandung arti menjaga semua komponen lingkungan (ekosistem, komunitas, populasi, spesies, dan variasi genetik) dalam keadaan baik. Bila suatu spesies dikatakan telah mengalami kepunahan, maka populasinya tidak dapat dipulihkan, sehingga terjadi kekurangan komponen dalam komunitas tempat hidupnya, bahkan nilai potensinya bagi manusia tidak akan pernah terwujud kembali. Kepunahan tersebut dapat saja terjadi dalam skala lokal (extirpated), namun dapat pula terjadi dalam skala global. Penyebab kepunahan adalah kerusakan oleh kegiatan manusia terhadap bentang alam dalam skala luas, meliputi kerusakan habitat, fragmentasi habitat, degradasi habitat, perubahan iklim global, pemanfaatan spesies secara berlebihan, invasi  spesies asing, peningkatan penyebaran penyakit, dan sinergi dari faktor-faktor tersebut.

Kegiatan perusakan lingkungan sampai pada hilangnya suatu spesies dapat terjadi karena tekanan perekonomian pada manusia. “Transaksi sukarela” merupakan prinsip transaksi keuangan yang di zaman perekonomian modern ini dapat diterima secara meluas di kalangan masyarakat, prinsipnya adalah kedua belah pihak yang terlibat dalam transaksi merasa diuntungkan. Penyimpangan terhadap prinsip transaksi sukarela seringkali terjadi dalam isu-isu lingkungan, penyimpangan tersebut dalam bentuk biaya atau manfaat tersembunyi yang disebut eksternalitas. Contoh eksternalitas yang sering diabaikan adalah pembuangan limbah industri ke badan sungai sehingga berakibat kegagalan pasar (terjadi karena kesalahan alokasi sumberdaya). Pada kasus kegagalan pasar yang dirugikan adalah masyarakat sementara pelaku bisnis senantiasa diuntungkan.

Video:
https://www.youtube.com/watch?v=eon7mOH2PTs

LEBIH DEKAT DENGAN EKOSISTEM DI INDONESIA Bagian I.

Ekositem adalah suatu satuan lingkungan yang melibatkan unsur-unsur biotik (jenis-jenis mahluk) dan faktor-faktor fisik (iklim, air, tanah) serta kimia (keasaman, salinitas) yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Gatra yang dapat digunakan sebagai ciri keutuhan ekosistem adalah energitika (taraf trofi atau makanan: produsen, konsumen dan redusen), pendauran hara (peran pelaksana trofi) dan produktifitas (hasil keseluruhan sistem). Jika dilihat dari komponen biotanya yang dapat dilihat dalam ekosistim ditentukan oleh hubungannya dengan jenis lain yang tinggal dalam ekosistem tersebut. Selain itu, keberadaannya ditentukan juga oleh keadaan lingkungan fisik dan kimia disekitarnya. Dengan demikian, interaksi antar organisme ditentukan juga oleh keseluruhan jenis dan faktor-faktor fisik serta kimia yang menyusun ekosistem itu.
Karena ekosistem terdiri dari atas perpaduan berbagai jenis dengan berbagai macam kombinasi lingkungan fisik dan kimia yang beraneka ragam juga, maka jika susunan komponen jenis dan susunan faktor fisik serta kimianya berbeda, ekosistem yang dihasilkannya pun akan berlainan pula. Perbedaan ini akan terlihat pula pada perbedaan gatra pencirian ekosistem, yaitu perbedaan energitika, penadauran hara dan produktifitasnya. Berdasarkan hal tersebut  maka ekosistem itu beragam, karena tidaklah mungkin semua ekosistem terdiri organisme-organisme yang sama dengan unsur-unsur lingkungan fisik dan kimia yang sama. Dengan demikian suatu tipe ekosistem tertentu akan terdiri atas kombinasi organisme dan unsur lingkungan yang khas dan berbeda dengan susunan kombinasi ekosistem yang lainnya.
Indonesia terdiri dari sekitar 17.504 pulau besar dan kecil, yang masing-masing pulau telah mengalami proses pembentukan yang berbeda-beda dengan sejarah geologi yang tidak sama. Bentangan yang luas dengan susunan daratan dan lautan yang tidak seragam mengakibatkan timbulnya keanekaragaman dan kisaran iklim yang luas.  Keanekaragaman jenis yang menghuni alam indonesia pun luar biasa besarnya. Dengan beragamnya tanah, iklim, letak geografi yang membentang luas serta jenis-jenis mahluk yang sangat bervariasi itu akan mengakibatkan ekosistem yang terbentuk juga akan beraneka ragam.

 
Gambar 1. Contoh Ekosistem Khas Indonesia

TIPE-TIPE EKOSISTEM
Dalam pengenalan tipe-tipe ekosistem pada umumnya digunakan ciri-ciri komunitas yang paling menonjol. Khususnya untuk ekosistem daratan maka yang digunakan adalah komunitas tumbuhan atau vegetasinya, karena wujud vegetasi merupakan pencerminan fisiognomi atau penampakan luar interaksi antara tumbuhan, hewan dan lingkungannya. Pada dasarnya di Indonesia terdapat empat kelompok ekosistem utama, yaitu ekosistem bahari, ekosistem darat alami, ekosistem suksesi dan ekosistem buatan.
I. KELOMPOK EKOSISTEM BAHARI
Gambar 2. Ekosistem Bahari Indonesia
Gambar 2. Ekosistem Bahari Indonesia
Ekosistem perairan bahari dibedakan atas perairan dalam, perairan dangkal atau ekosistem litoral dan daerah pasang surut.
1.1  Ekosistem laut dalam
Gambar 3. Ekspedisi Laut dalam Indonesia
Gambar 3. Ekspedisi Laut dalam Indonesia
Ekosistem laut dalam sebenarnya terdiri dari beberapa subsistem, dan dapat dibagi menjadi sistem pelagik dan bentik. Cahaya matahari hanya dapat menembus air laut hingga kedalaman 20-30 m. Pada kedalaman dimana tidak terdapat cahaya matahari adalah daerah afotik. Kadar oksigen pada daerah tersebut rendah sehingga yang hidup di daerah tersebut hanya organisme heterotrof yang mengandalkan jatuhnya sisa-sisa organik dari lapisan atasnya. Oleh karena itu,  secara umum dapat dikatakan bahwa keanekaragaman jenis di laut dalam tidak setinggi di ekosistem lainnya. Saat ini, pengetahuan tentang kehidupan di laut dalam, di kawasan perairan Indonesia masih sangat kurang.
1.2  Pantai pasir Dangkal
Gambar 4. Pesona Hamparan Pantai Pasir Indonesia
Gambar 4. Pesona Hamparan Pantai Pasir Indonesia. Sumber: Dok. Pribadi Jaya
Komunitas ini, beserta tiga tipe ekosistem berikutnya terletak di pantai yang tergenang air laut kecuali ketika air surut rendah. Pantai pasir umumnya terdapat di wilayah pesisir terbuka dan jauh dari pengaruh sungai besar, tetapi dapat pula terletak diantara dinding batu terjal. Pantai pasir bisa membentang beratus-ratus kilometer ke arah laut dan berakhir pada tubir (fringing reef). Pantai seperti ini terdapat antara lain di pantai utara Jawa, pantai Bali, Sumbawa, Lombok dan Sulawesi. Komunitas pada habitat ini didominasi oleh empat jenis rumput laut yaitu Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule tridentata, dan Thalasia hemprichii. Adakalanya bercampur dengan beberapa jenis ganggang laut, Gracilaria, Halimeda, Padina dan Sargassum.
1.3  Terumbu karang
Terumbu karang (coral reef) terbentuk sebagai hasil kegiatan berbagai jenis organisme, terutama golongan Coelenterata, serta biota lainnya seperti cacing, siput, dan kerang serta ganggang berkapur seperti Halimeda dan Lithothamnion. Terumbu karang terbentuk pada perairan jernih, karena itu tidak terdapat pada pantai utara Jawa tetapi banyak terdapat di pantai selatan Jawa, Bali, pulau-pulau sebelah barat Sumatera, Nusa Tenggara dan Maluku. Di pantai landai, komunitas ini dapat terbentang luas dibandingkan di pantai curam. Bedasarkan kondisi topografi setempat, pantai karang dapat berkembang dekat garis pantai atau dipisahkan dari garis pantai oleh endapan pasir atau goba (lagoon). Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai jenis ikan hias bernilai ekonomi tinggi.
Gambar 5. Keindahan Ekosistem Terumbu Karang Indonesia
Gambar 5. Keindahan Ekosistem Terumbu Karang Indonesia
1.4. Pantai Batu
Pantai batu dapat berupa batuan padas yang berasal dari proses konglomerasi batu-batu kecil dengan tanah liat dan kapur atau terbentuk dari bongkah-bongkah batu granit yang besar-besar, dan biasanya terdapat di wilayah pesisir yang berbukit dan berdinding batu di pantai selatan Jawa, pantai barat Sumatera, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku. Vegetasi didominasi oleh ganggang Eucheuma, Gelidium dan Sargassum.
Gambar 6. Pantai Batu-Sabang
Gambar 6. Pantai Batu-Sabang. Sumber: Dok. Pribadi Jaya
1.5. Pantai Lumpu
Pantai lumpur terdapat di muara sungai dan sekitarnya. Bila sungainya besar maka pantai lumpur dapat membentang luas ke laut. Pantai seperti ini banyak terdapat di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua. Pada habitat ini berkembang komunitas pionir Avicennia atau Sonneratia dan adakalanya berkembang pula komunitas rumput laut Enhalus acoroides. Tipe ekosistem ini dapat juga disebut ekosistem estuarina. Ekosistem ini merupakan tempat asuhan berbagai jenis biota laut dalam melengkapi perjalanan daur hidupnya. Oleh karena itu, pada saat-saat tertentu pada ekosistem ini banyak terdapat biota pelagik atau demersal, misalnya dalam bentuk ikan himpun dan sejenisnya. Pantai lumpur juga menjadi habitat ikan gelodok.
Bersambung.....

LEBIH DEKAT DENGAN EKOSISTEM DI INDONESIA Bagian II.

II. KELOMPOK EKOSISTEM DARAT ALAMI
Di Indonesia terdapat tiga bentuk vegetasi utama, yaitu vegetasi dataran rendah, vegetasi pegunungan, dan vegetasi mosun.
2.1 Vegetasi dataran rendah (Lowland vegetation)
Vegetasi dataran rendah merupakan bagian terbesar hutan dan mencakup kawasan yang paling luas di Indonesia, terletak pada elevasi 0-1000 mdpl. Vegetasi ini terdiri atas vegetasi rawa dan vegetasi darat. Vegetasi rawa terdapat di tempat yang selalu tergenang air. Di Indonesia terdapat beberapa bentuk vegetasi rawa tergantung pada kedalaman, salinitas dan kualitas air serta kondisi drainase dan banjir. Berikut ini adalah contoh-contoh vegetasi dataran rendah di Indonesia.
Hutan Bakau
Gambar 1. Hutan Bakau Indonesia. Sumber

Hutan Bakau adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Hutan bakau Indonesia mempunyai luas sekitar 2,5-4 juta hektar yang tersebar di seluruh kepulauan. Bagian terbesar hutan bakau di dunia terdapat di Indonesia, namun saat ini sebagian dalam kondisi kritis. Di Indonesia, hutan bakau yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar, yaitu di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan bakau yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Hutan bakau di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.
Keragaman jenis tumbuhan pada hutan bakau lebih sedikit dibandingkan hutan darat. Komposisi jenis tumbuhan pada hutan bakau dapat berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya tergantung pada kombinasi faktor-faktor habitat yang mempengaruhinya. Hanya sekitar 54 jenis anggota dari sekitar 16 suku, yang dianggap sebagai jenis-jenis bakau sejati. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan bakau dan jarang tumbuh di luarnya. Dari jenis-jenis itu, sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia. Hal ini menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di Samudera Hindia dan Pasifik.
Menurut fisiognominya, hutan bakau tampak seragam tetapi ada kecenderungan bahwa pepohonan jenis-jenis bakau yang tumbuh pada beting karang atau habitat yang kurang subur lebih pendek atau kecil. Hutan bakau yang berkembang baik dengan pohon-pohon yang tinggi dan berdiameter besar biasanya terdapat sekitar muara sungai besar dan dapat membentang jauh ke pedalaman di sepanjang sungai tersebut. 
Hutan Rawa air tawar
Gambar 2. Hutan Rawa Air Tawar. Sumber
Hutan rawa air tawar terdapat dalam kawasan yang luas, terletak dibelakang hutan bakau. Kanopinya lebat, dalam kondisi yang baik,  tingginya pohon dapat mencapai 30 m. Pohon-pohon pada umumnya sama tinggi, sehingga dari udara kanopi hutan tampak seragam dan rata. Variasi hutan rawa terdapat di daerah delta yang secara teratur dibanjiri oleh air tawar sebagai akibat gerakan pasang surut. Pada pohon-pohon di hutan daerah tersebut, berkembang akar tunjang, akar lutut, dan banir yang berlekuk-lekuk.
Hutan rawa air tawar tumbuh di daerah-daerah yang terdapat sungai-sungai besar. Hutan ini secara menetap tergenang air tawar yang kaya mineral dan sedikit asam dari sungai. Sebagian tegakan pohon mempunyai ketinggian yang rendah, seperti pandan atau palma yang sulit ditembus. Hutan rawa terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia, misalnya di Sumatra bagian Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku dan Irian Jaya bagian Selatan.
Hutan tepi sungai
Hutan tepi sungai terdapat disepanjang sungai besar, merupakan vegetasi rawa musiman yang sangat berbeda, terutama bila dilihat dari udara. Tanahnya subur, dalam, dan gembur. Di Kalimantan, hutan ini merupakan habitat pohon tengkawang dan kayu ulin. Hutan ini sering disangga oleh hutan di dasar lembah berawa dan bertanah aluvium yang kadang-kadang digenangi  bila air sungai naik. Habitat ini merupakan habitat transisi dengan hutan rawa air tawar ini dianggap sebagai hutan rawa yang paling jarang digenangi air. Akan tetapi tepi sungai dapat pula tidak berupa rawa melainkan berupa tebing berbatu-batu. Vegetasinya sebagian besar tersusun oleh tumbuhan berkayu yang hidup pada celah-celah batu dengan perakaran kuat, daun-daun menyempit dan bijinya disebarkan oleh air atau ikan. Kesemuanya disesuaikan dengan adanya banjir berkala, sehingga terbentuk sekelompok jenis tumbuhan yang disebut reofit.
 Gambar 3. Hutan Tepi Sungai. Sumber
Hutan Rawa Gambut
Gambar 4. Rawa Gambut Indonesia. Sumber

Hutan rawa gambut ditandai oleh floranya yang terbatas. Pohon-pohonnya tinggi, tetapi kurus dan tidak lebat karena tumbuh pada tanah yang terdiri atas timbunan gambut yang sangat masam (pH<4) dan mengandung unsur hara yang rendah. Hutan rawa gambut mencakup kawasan yang sangat luas dan terletak berdampingan dengan hutan rawa air tawar atau di atas endapan aluvium laut. Tebal gambut berkisar dari 0.5-20 m. Dari tepi sampai ke tengah-tengah hutan gambut dapat dikenal tiga tipe hutan yang merupakan fase-fase perkembangan, dan tipe-tipe ini mempunyai struktur fisiognomi dan flora yang berbeda, yaitu (1) hutan rawa gambut campuran, (2) transisi hutan gambut campuran/padang terentang, dan (3) padang terentang. Tipe-tipe ini tidak selalu lengkap ada di setiap lokasi. Di Indonesia terdapat sekitar 20 juta hektar lahan gambut, data tahun 1987, hanya 17 juta hektar yang tersisa. Sebagian besar hutan rawa gambut di Indonesia terdapat di Sumatera dan Kalimantan, yaitu  Propinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Vegetasi Pantai Pasir
  Gambar 5. Pantai Pasir. Sumber
Terdapat di tepi pantai berpasir atau berkarang yang membentang tidak terlalu jauh dari pantai ke arah darat, vegetasi ini ada dua macam, yang berbentuk terna (formasi pes-caprea) dan yang berbentuk perdu dan pohon (formasi Barringtonia). Komposisi jenis tumbuhan pada komunitas ini sangat beragam.  Hutan ini umumnya terdapat di sepanjang pantai curam, seperti pantai selatan Jawa dan Sumatera. Jenis tanaman yang mendominasi formasi hutan pantai pasir di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur adalah ketapang (Terminalia catapa), sawo kecik (Manilkara kauki), waru laut (Hisbiscus sp.), keben (Baringtonia asiatica) dan nyamplung (Calophyllum inophyllum).
Hutan Dipterocarpaceae Dataran rendah
 Gambar 6. Hutan Dipterocarpaceae Dataran rendah. Sumber
Hutan Dipterocarpaceae dataran rendah mencakup sebagian besar lahan darat dan terdapat pada tanah podsolik merah kuning dan gugus tanah yang beraneka (kompleks) pada ketinggian 0-800 mdpl di Sumatera dan Kalimantan. Hutan ini terdiri dari pohon-pohon tinggi dengan kanopi lebat, dengan permukaan atasnya tidak rata. Pohon-pohon di hutan ini, berbentuk daun lebar dan sedang serta malar hijau. Kanopi utama hutan mencapai 30-45 m, dengan pohon yang mencuat dapat sampai setinggi 60 m, biasanya dengan batang panjang, lurus dan ramping. Hutan Dipterocarpaceae di Kalimantan lebih kaya akan jenis-jenis pohon dibandingkan dengan hutan lain di Malesia (zona ekologi Indomalaya hingga Australasia). Hutan ini di Kalimantan Timur merupakan hutan terkaya akan jenis-jenis pohon diseluruh dunia. Pada umumnya tidak satupun jenis Dipterocarpaceae yang dominan, tetapi secara keseluruhan, jenis-jenis suku ini sangat merajai lapisan utama hutannya.
Hutan Hujan non-Dipterocarpaceae dataran rendah
Hutan ini berkembang pada lahan datar dan lereng landai, mempunyai tanah yang dalam, drainase kurang baik sampai baik, dan tidak pernah tergenang air atau kadang-kadang tergenang tetapi tidak lama. Tipe hutan ini terutama terdapat di daerah sebelah timur garis Wallace dimana jenis-jenis Dipterocarpaceae tidak mendominasi. Pada hutan ini sebagian besar pohon mempunyai tinggi pohon rendah tanpa pohon besar mencuat tinggi sebagai penyusun kanopi utama. Di Pulau Jawa, tipe hutan ini sudah lenyak dan hanya tersisa di Suaka Alam seperti Taman Nasional Ujung Kulon.
Hutan Kerangas
 Gambar 7. Hutan Kerakas Belitung. Sumber
Hutan Kerangas umunya terdapat pada kawasan hutan hujan dataran rendah pada ketinggian 0-800 m dpl, pada tanah podsol miskin, yang berasal dari bahan induk silika bertekstur kasar yang sangat asam (pH<4) serta kandungan hara rendah. Komposisi flora, struktur dan fisiognomi hutan kerangas berbeda sekali dengan hutan hujan Dipterocarpaceae dataran rendah. Hutan ini biasanya lebih kerdil dibandingkan hutan Dipterocarpaceae dan strukturnya bervariasi, dari tipe hutan yang relatif tinggi dengan kanopi tertutup, hingga tipe padang yang berupa semak-semak dengan kanopi terbuka seperti savana. Variasi ini dapat berkaitan dengan semakin dangkalnya kedalaman air tanah dan semakin rendahnya ketersediaan air, dan variabilitas ini pada gilirannya berkaitan dengan derajat perkembangan dan struktur tanah podsol. Dalam kondisi yang baik, hutan kerangas di Kalimantan  menyerupai hutan Dipterocarpaceae dengan jenis-jenis Dipterocarpaceae mendominasi dengan kanopi hutan yang tertutup. Sedangkan dalam kondisi yang ekstrim, hutan kerangas menunjukkan kanopi terbuka dengan tinggi pohon hanya 5-10 m sehingga hutannya menyerupai savana.
Hutan pada Batu Gamping
Bukit-bukit batu gamping yang terjal sering membentuk lansekap yang mencolok, terutama di daerah dataran rendah di semua pulau besar di Indonesia. Di Papua, batu gamping banyak terdapat dipegunungan. Lansekap batu gamping berisi beragam habitat dan tanah.  Habitat, flora dan fauna batu gamping di Sulawesi yang telah banyak dipelajari. Daerah Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan adalah kawasan karst (batu gamping) terbesar ketiga di dunia, dan merupakan habitat banyak flora fauna endemik dan langka. Hutan batu gamping juga banyak dijumpai di Propinsi Banten, misalnya wilayah Pasir Curi-Guhawayang Kabupaten Lebak.
Hutan Sagu
Sagu (Metroxylon sagu) merupakan salah satu tanaman sumber karbohidrat. Luas areal  tanaman sagu di Indonesia mencapai 1,2 juta ha dengan produksi berkisar 8,4-13,6 juta ton per tahun, dan sekitar 90 % berada di Papua, sisanya banyak terdapat di Maluku. Hutan ini berkisar dari hutan sagu murni sampai hutan sagu yang bercampur dengan pohon yang rapat, dan berkembang di daerah dengan aliran air tawar yang teratur. Di bawah pohon sagu biasanya tidak terdapat tumbuhan lain dan lantai hutan terdiri dari lapisan serasah daun yang bergambut. Hutan sagu ini menjadi kerdil di tempat-tempat yang airnya payau atau pada daerah dengan permukaan airnya menurun, hutan sagu menderita kekeringan.
 Gambar 8. Hutan Sagu. Sumber
Bersambung....

LEBIH DEKAT DENGAN EKOSISTEM DI INDONESIA Bagian III.

2.2. Vegetasi pegunungan
Vegetasi pegunungan sangat beragam, dan diklasifikasikan menjadi hutan pegunungan, padang rumput, vegetasi terbuka pada lereng batu, vegetasi rawa gambut dan danau, serta vegetasi alpin.
Hutan pegunungan bawah
Hutan ini terletak pada ketinggian 1000-2500 mdpl dan berbeda dari hutan dibawahnya. Tinggi pohon semakin rendah dan diameternya semakin kecil dengan semakin tingginya ketinggian pegunungan. Pada punggung dan lereng gunung, pohon-pohon biasanya pendek dan sering berupa semak. Pada ketinggian 1500 mdpl banyak tumbuh berbagai jenis lumut, anggrek, dan pakis epifit. Pada hutan ini, jenis-jenis dari suku Lauraceae dan Fagaceae yang umum terdapat di kawasan  beriklim sedang dapat dijumpai dalam jumlah besar. Suku-suku tumbuhan yang mendominasi hutan dataran rendah tidak lagi dominan di hutan ini.
Hutan pegunungan atas
Hutan ini terdapat pada ketinggian 2.500-3.300 mdpl, dan tergantung pada letak gunung. Hutan lebat dengan tinggi pohon sampai 25 m ini mempunyai jumlah jenis lebih sedikit daripada hutan pegunungan bawah.
Hutan Nothofagus
Tipe hutan yang hanya terdapat di Papua ini merupakan varian hutan pegunungan atas. Tetapi karena Nothofagus pullei secara lokal dapat menjadi dominan, hutan ini dianggap sebagai tipe vegetasi tersendiri.
Hutan Subalpin bawah
Tipe hutan yang terdapat pada ketinggian 2.400-3.800 ini sebenarnya merupakan hutan daerah iklim sedang dan hanya terdiri atas satu lapis pohon-pohon kecil dan pendek saja tanpa pohon-pohon yang mencuat tinggi. Jumlah jenisnya lebih sedikit dibadungkan hutan pegunungan bawah dan didominasi oleh suku Ericaceae sehingga sering pula disebut semak Ericaceae. Bergantung pada lereng dan arah menghadap, lumut dan lumut kerak tumbuh melimpah pada permukaan tanah, karenanya sering pula hutan ini disebut “hutan lumut”. Lumut memang menjadi ciri khas hutan ini karena dapat membentuk lapisan tebal dan lebat pada cabang-cabang pohon maupun tanah.
Hutan Subalpin atas
Hutan ini terdapat di Papua pada ketinggian sekitar 3.800-4.100 mdpl. Komposisi jenis pohon dalam tipe hutan ini hampir serupa dengan hutan subalpin bawah, tetapi pohon-pohon lebih pendek (<10 m). Tajuk membentuk kanopi hutan lebat dan tebal tetapi tidak berkesinambungan karena terdapat tempat-tempat yang terbuka dan berbatu atau ditumbuhi rumput-rumputan. Batas elevasi untuk pertumbuhan pohon ini disebut batas pohon (timber line) dan di Indonesia hanya terdapat di pegunungan tinggi di Papua.
Padang rumput-semak Tepi Hutan
Tipe komunitas ini terdapat di Papua pada ketinggian 3.300-3.800 mdpl seperti pada lereng batu kapur dengan tanah yang dangkal di dataran tinggi Kemabu. Tipe komunitas terdiri atas rumpun-rumpun rumput dan semak-semak dan adakalanya terdapat batu-batu kapur terbuka.
Padang rumput dengan Paku Pohon
Tipe komunitas ini terdapat pada tanah yang berdrainase baik pada ketinggian sekitar 3.200-3.700 mdpl di Papua, terutama di Dataran Tinggi Kemabu. Dan di sekitar Rawa Carstenz. Dalam tipe ini paku pohon membentuk rumpun pada matriks rerumputan yang merumpun pula.
Padang rumput merumpun
Padang rumput ini terdapat pada lereng yang basah pada ketinggian 3.300-4.100 mdpl di seluruh pegunungan di Papua dan Papua Nugini. Padang rumput ini hampir tidak berperdu dan seluruhnya berupa hamparan rumput merumpun Danthonia klossii dengan tinggi sekitar satu meter, sehingga hampir tidak memungkinkan jenis lain untuk tumbuh kecuali beberapa terna dan lumut yang tumbuh pada dasar rumpun rumput. Kadang-kadang perdu Corprosma brassii dan Styphelia suaveolens terdapat di sini tetapi tumbuhnya kerdil.
Vegetasi Lumut Kerak
Komunitas ini terdapat pada ketinggian sekitar 3.800 mdpl. Komunitas lumut didominasi oleh Stereocaulon pseudomassartianum berkembang pada permukaan batu kerikil yang tidak bertanah dan batu-batu besar. Disini hampir tidak ada tumbuhan lain kecuali lumut yang kadang tumbuh pada batu-batu besar.
Vegetasi pada tebing batu
Tipe vegetasi ini terdapat pada bukit-bukit batu kapur terjal dan di tempat-tempat yang sebagian terlindung dari hujan dan bertanah lembab karena air bergamping di sekitar Rawa Carstenz. Vegetasinya terdiri dari rumpun-rumpun rumput serta paku dan terna tertentu.
Vegetasi Rawa Subalpin
Vegetasi rawa ini banyak terdapat di pegunungan tinggi dengan ketinggian lebih dari 3.000 m dpl, terutama di Papua. Di Pulau Jawa, vegetasi ini dapat di jumpai di Gunung Gede, Gunung Dieng dan Gunung Patuha.
Vegetasi Perdu Rawa Gambut
Tipe vegetasi ini menutupi area yang luas dengan habitat basah atau terendam air pada ketinggian sekitar  3.400-4.100, di Papua, seperti di pantai barat Danau Larson di sekitar Puncak Jaya. Tipe ini disebut juga komunitas rawa bantalan keras.
Padang Rumput Rawa Gambut
Di Papua, padang rumput ini menutupi daerah datar bertanah gambut yang luas pada ketinggian 3.300-4.000 mdpl. Di Jawa tipe vegetasi ini terdapat pada ketinggian 2.000-3.500.
Vegetasi Danau
Danau banyak terdapat pada pegunungan tinggi dan umumnya adalah danau eutrofik. Berbagai tingkat perkembangan (suksesi) vegetasi dapat ditemukan disini dari danau yang terdiri dari perairan terbuka sampai danau yang hampir tertutup penuh oleh tumbuhan, seperti danau-danau di Pegunungan Dieng.
Padang Rumput Alpin Pendek
Padang rumput alpin pendek terdapat pada puncak terbuka bukit-bukit granit pada ketinggian 4.100-4.200 mdpl, misalnya di daerah Grasberg (Papua) tetapi tidak terdapat pada substrat batu kapur. Di sini tumbuh tersebar rumput-rumput yang merumpun, sedangkan permukaan tanah tertutup lumut dan lumut kerak.
Padang Rumput Alpin merumpun
Deschampsia Klossii membentuk padang rumput merumpun yang lebat dan padat pada tanah yang dalam dan berdrainase baik pada ketinggian 4.000-4.500 mdpl di Gunung Jaya Wijaya. Komunitas ini dibedakan dari padang rumput merumpun subalpin dari pertumbuhannya yang pendek (40 cm) dan tidak adanya perdu-perdu tinggi.
Komunitas Kerangas Tetramolopium-Rhacomitrium
Komunitas Kerangas Tetramolopium klossii menempati daerah yang terbebas dari salju selama lebih dari 30 tahun, yang hanya terdapat di Gunung Jaya Wijaya, seperti membentang di Lembah Meren pada ketinggian 3.950-4.200 mdpl. Daerah ini berupa morain (onggokan batu, kerikil, pasir dan bahan lainnya) yang menjadi terbuka setelah salju mundur selama 120 tahun terakhir. Perdu rendah T. klossii tumbuh terpencar dan berakar diantara lapisan lumut Rhacomitrium crispulum dan lain-lain. Tempat terbuka berkisar dari 30% sampai 70% pada komunitas muda dan 10% sampai 30% pada yang tua.
Komunitas Kerangas Perdu Kerdil
Komunitas ini menempati punggung bukit dan lereng diantara batu-batu kapur dan bukit terjal dengan tanah yang dangkal di atas ketinggian 4.200 mdpl yang terletak  di luar daerah yang terpengaruh majunya salju, seperti diantara Lembah Kuning dan Lembah Meren di Papua. Komunitas ini terdiri dari atas hamparan perdu dengan tebal sampai 20 cm.
Tundra Alpin Kering
Komunitas ini berkembang pada morain yang baru setelah salju mundur pada ketinggian 4.230-4.600 mdpl di Papua. Vegetasi ini merupakan komunitas yang sedang berkembang menuju komunitas kerangas Tetramolopium klossii.
Tundra Alpin Basah
Terdapat di belakang morain batu kapur dengan drainase yang sangat baik pada lahan datar di Lembah Kuning dengan ketinggian 4.250 mdpl, berupa hamparan lumut, terutama Breutelia aristifolia, yang menerus dan menunjang pertumbuhan jenis-jenis terna.
2.3. Vegetasi Monsun
Vegetasi Monsun terdapat di daerah yang beriklim kering musiman, evapotranspirasi melebihi curah hujan yang umumnya kurang dari 1500 mm/tahun. Jumlah hari hujan selama empat bulan terkering berturut-turut kurang dari 20 hari. Musim kemarau pendek sampai kemarau panjang terjadi pada pertengahan tahun.
Hutan Monsun
Hutan Monsun terdapat pada ketinggian 0-800 mdpl di Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Papua bagian tenggara. Menurut strukturnya hutan monsun hanya mempunyai satu lapisan tajuk pohon dengan tinggi jarang lebih dari 25 m. Pohon mencuat jarang sekali. Pohon bercabang rendah, batangnya jarang lurus. Jumlah jenis sedikit dan masing-masing cenderung untuk jadi dominan lokal.

Savana
Tipe vegetasi ini berkisar dari padang rumput dengan pohon-pohon yang terpencar jarang sampai dengan padang rumput yang berpohon lebat dan merupakan klimaks api. Savana terdapat terutama di Jawa Timur, Bali Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua bagian Tenggara. 40% wilayah Taman Nasional Baluran, Jawa Timur diisi oleh padang savana luas, dengan jenis tanah aluvial dan vulkanik. Beragam jenis satwa pemakan rumput hidup di sini, seperti kerbau, kijang, dan rusa.
Padang rumput
Padang rumput mencakup kawasan cukup luas di daerah kering baik berupa mosaik maupun bentangan luas. Sering bersinambung dengan savana. Curah hujan yang sangat rendah mengakibatkan tumbuhan kesulitan untuk mendapatkan air, sehingga tumbuhan yang bertahan hidup hanya jenis rumput-rumputan, karena jenis tanaman ini dapat hidup dan beradaptasi dalam keadaan tanah kering. Berbeda dengan savana, pada padang rumput tidak terdapat jenis pohon, selain jenis rumput kadang ada terna dan perdu kecil. Padang rumput di Indonesia banyak terdapat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
3. KELOMPOK EKOSISTEM SUKSESI
Ekosistem suksesi adalah ekosistem yang berkembang setelah terjadi perusakan terhadap ekosistem alami yang terjadi karena peristiwa alami maupun karena kegiatan manusia atau bila ekosistem buatan tidak dirawat lagi dan dibiarkan berkembang sendiri menurut kondisi alam setempat.
3.1. Ekosistem Suksesi Primer
Tipe ekosistem ini berkembang pada subsrat baru seperti permukaan tanah terbuka yang ditinggalkan tanah longsor atau pemapasan tanah untuk penambangan dan pembuatan jalan, timbunan abu atau lahar yang dimuntahkan letusan gunung berapi, timbunan tanah bekas galian, endapan pasir pantai, dan endapan lumpur di tepi danau dan muara atau tepu sungai. Berbagai tipe ekosistem dengan unsur yang berbeda yang terdapat dari pantai sampai ke puncak gunung di kelompok pulau Krakatau adalah contoh ekosistem suksesi primer.
3.1. Ekosistem Suksesi sekunder
Tipe ekosistem ini berkembang setelah ekosistem alami rusak total tetapi tidak terbentuk substrat baru yang diakibatkan khususnya oleh kegiatan manusia, seperti penebangan habis hutan dan pembakaran. Ekosistem ini dapat pula berkembang dari ekosistem buatan yang ditinggalkan, kemudian berkembang secara alami, seperti terjadi dalam praktek perladangan berpindah atau berotasi yang meninggalkan lahan garapan untuk diberakan setelah dua atau tiga kali panen. Setiap ekosistem alami tersebut di atas akan membentuk ekosistem sekunder sendiri yang komposisi jenisnya pun akan beraneka ragam tergantung pada kondisi lingkungan setempat dan tersedianya sumber bibit. Sebagai misal dapat diambil hutan primer dataran rendah yang bila ditebang habis dan dibakar untuk ladang kemudian ditanami beberapa kali dan ditinggalkan maka akan terbentuk ekosistem yang komponen tumbuhannya didominasi rerumputan dan terna dan setelah beberapa waktu berkembang menjadi belukar yang didominasi oleh pohon-pohon cepat tumbuh seperti jenis-jenis Macaranga, Callicarpa, Vernonia, Duabanga, dan Cratoxylum.
Bila pembakaran terjadi berulang-ulang dan tenggang waktu antar pembakaran pendek sekali maka ekosistem suksesi yang terbentuk adalah ekosistem padang alang-alang yang akan tetap bertahan bila pembakaran terus berulang, tetapi akan berkembang menjadi belukar bila pembakaran tidak terjadi lagi. Ekosistem suksesi ini akan sangat beraneka ragam karena kehadirannya bukan saja bergantung kepada keanekaragaman ekosistem asal, sumber bibit dan faktor lingkungan, tetapi juga bergantung pada skala waktu.
4. KELOMPOK EKOSISTEM BUATAN
4.1. Danau buatan (bendungan)
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, banyak bendungan baru didirikan dan membentuk eksistem baru dengan substrat dasar yang umumnya berasal dari lahan pertanian dengan sifat geologi dan tanah yang berbeda-beda. Komunitas biotik yang terbentuk pada umumnya masih dalam fase suksesi dengan umur yang berbeda. Sering pula komponen hewan, khususnya ikan budidaya, banyak yang diintroduksikan. Tidak jarang di tepi danau berkembang komunitas tumbuhan suksesi seperti yang diuraikan dalam vegetasi danau alami di atas, atau tumbuhan pendatang yang menjadi dominan seperti eceng gondok dan kiambang yang sering pula menutupi sebagian permukaan danau.
4.2. Hutan Tanaman
Hutan tanaman banyak terdapat di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Jenis pohon yang banyak ditanam adalah pohon Jati (daerah kering), pinus (daerah kering dan basah), mahoni (lahan dataran rendah basah), Puspa, Rasamala, Manglid, Ampupu, Damar (di daerah pegunungan).
4.3. Agroekosistem
Keanekaragaman agroekosistem berkaitan erat dengan faktor iklim, tanah, topografi dan budaya. Berbagai tipe agroekosistem yang dapat dikenal di Indonesia adala sawah irigasi, sawah tadah hujan, sawah rawa, sawah pasang surut, kolam ikan, tambak, perkebunan, ladang berpindah.
Referensi
Arif A, 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius.
Sastrapradja DS, Adisoemarto S, Kartawinata K, Sastrapradja S, Rifai MA. 1989. Keanekaragaman Hayati untuk Kelangsungan Hidup Bangsa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi – LIPI.
Noor YR, Khazali M, dan Suryadiputra INN. 1999. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP. Bogor.
Lubis IR, Suryadiputra INN. Upaya Pengelolaan Terpadu Hutan Rawa Gambut Bekas Terbakar di Wilayah Berbak-Sembilang. http://www.fire.uni-freiburg.de/GlobalNetworks/ PeatlandFireNetwork/Sumatera-peatland -fire-proc-Part-4.pdf